Laman

Rabu, 11 Januari 2012

KRITIK SASTRA


BAB I
PEMBAHASAN
SOSIOLOGI SASTRA DALAM KERANGKA KRITIK SASTRA

1.1           Pengertian

      Sosiologi sastra merupakan bagian mutlak dari kritik sastra, maksudnya adalah mengkhususkan diri dalam menelaah sastra dengan memperhatikan segi-segi sosial kemasyarakatan. Produk telaahan itu dengan sendirinya dapat digolongkan dalam kritik sastra.
Sosiologi sastra adalah suatu telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat dan tentang sosial dan proses sosial. Maksudnya adalah bagaimana masyarakat itu tumbuh dan berkembang dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan segala masala perekonomian,keagamaan,politik DLL. Telaah sosiologi memiliki tiga llasifikasi ( wellek dan warren:1956) yaitu :

1        Sosiologi pengarang, yakni yang mempermasalakan status sosial yang menyangkut diri pengarang.
2        Sosiologi klarya sastra, yakni mempermasalakn tentang status karya sastra yang menjadi pokok telaahan adalah tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikannya.
3        Sosiologi sastra, yakni yang mempermasalakan pengaruh sosial tentang masyarakat.
Sastra sebagaimana halnya dengan sosiologi berurusan dengan manusia bahkan sastra diciptakan oleh anggota masyarakat untuk dinikmati dan dipahami dengan dimanfaatkan dleh masyarakat. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya.bahasa itu merupakan ciptaan sosial yang menampilkan gambaran kehidupan. Oleh sebab itu sesunguhnya sosiologi dan satra itu me3mperjuankan masala yang sama, kedu-duanya berurusan dengan masalah sosial,ekonomi,politik.
     Menurut Prof. awang saileh (1980) sosiologi bersifat kognitif sedangkan satra bersifat efektif. Karena persamaan objek yang digarap dengan ada ahlinya yang meramalkan bahwa pada akhirnya nama sosiologi dapatmengantikan kedudukan kedudukan novel. Tetapi suatu hal yang jelas adalah bahwa sastra mempunyai kekhasan sendiri yang tidak dimiliki oleh sosiologi, oleh karenanya tampak kedua-kedua memiliki kemungkinan yang sama untuk terus berkembang dan tidak mustahil pula mustahil pula kedudukan dapat bekerjasama saling melengkapi.

1.2             Sastra masyarakat dan kebudayaan
sastra merupakan bagian dari pada kebudayaan hubingan antara kebudayaan masyarakat itu amatlah erat, karena kebudayaan itu sendiri menurut pandangan antropolog adalah cara suatu kumpulan manusia atau masyarakat mengadakan sitem nilai yaitu berupa aturan yang merupakan suatu benda atau perbuatan yang tinggi niainya,kebanyakan ahli antropologi melihat kebudayaan itu sebagai suatu keseluruhan,diman sistem sosial itu sendiri adalah sebagian dari kebudayaan singkatnya kebudayaan itu dikatakan sebagai cara hidup yaitu bagaimana suatu masyarakat itu mengatur hidupnya.
     Kebudayaan itu memiliki tiga unsur :
§  unsur sitem sosial: sistem sosial ini terdiri dari pada sistem kekeluargaan, sistem politik, dan sistem undang-undang sitem ini yang dikenal sebagai institusi sosial yaitu cara manusia yang hidup berkelompok  mengatur hubungan antara satu dengan yang lain dalam jalinan hidup bermasyarakat
§  sistem nilai dan ide : yaitu sistemsitem yang memberi makna pada kehidupan bermasyarakat, sistem nilai itu menyangkut upaya bagaiman kita menentukan sesuatu yang kebih berharga. Sedangkan sistem ide merupakan ilmu pengetahuan dan kepercayaan yang terdapat dalm masyarakat.
§  peralatan budaya: penemuan material yang berupa perkakas dan peralatan yang diperlukan untuk menunjang kehidupan.
Selain unsur kebudayaan, adpun juga sifat kebudayaan yang dirumuskan oleh para ahli antropologi, yaitu sebagai berikut :
1        kebudayaan merupakan sesutu yang berkesinambungan,sesuatu yang diwariskan serta sesuatu yang saling mempengaruhi sesuatu yang berubah.
2        Kebudayaan itu merupakan suatu sistem lambang, artinya manusia mempunyai kebolehan berkomunikasi dengan mengunakan lambang-lambang bahasa itu sendiri merupakan sitem lambang.
3        Kebudayaan itu relatif artinya setiap masyarakat mempunyai kebudayaan sendiri  yang memiliki ketiga unsur di atas yang mempunyai ciri khas sendiri yang membedakannya dengan kebudayaan yang lain.
       Bila ciri kebudayaan itu kita letakkan pada sastra dan kita kaitkan pula dengan masyarakat yang menggunukan sastra itu maka kita dapat mengatakan bahwa nilai suatu sastra itu pada umumnya terletak pada masyarakat itu sendiri.
kesustraan itu pada dasarnya bukan saja mempunyai fungsi dalam masyarakat tetapi juga mencerminkan dan menyatakan segi-segi yang kadang-kadang kurang jelas terlihat dalam masyarakat . sebagaimana juga dalam karya seni lainnya, sastra mempunyai fungsi sosial dan fungsi estetika. Fungsi sosial sastra adalah keterlibatan sastra dalam kehidupan sosial,ekonomi,politik dan yang lain-lainnya. Sedangkan fungsi estetika sastra adalah penampilan karya sastra yang dapat memberi kenikmatan dan rasa keindahan bagi pembacanya. Kedua fungsi ini pada umumnya terjalin dengan baik.
Bila kita menggunakan konsep kebudayaan tadi maka sama sebagai ekspresi kebudayaan  akan mencerminkan pula adanya perubahan-perubahan dalam masyarakat akan mengenal adanya pewarisan antarayang lama kepada kepada yang baru baik disadari maupun tidak disadari.
        Dalam uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa antara masyarakat,kebudayaan,dan satra merupakan suatu jalinian yang
kuat yang satu dengan yang lainnya saling memberi pengaruh, saling membutuh dan saling tentu menentukan dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

1.3           Pemanfaatan pendekatan sosiologi
Penggunaan pendekatan sosiologi dalam melakukan kritik sastra tidak kurang
Mendapat serangan pedas daripada kritikus sastra. Salah satu serangan itu dilancarkan oleh wellek dan waren yang mengatakan bahwa pendekatan sosiologi atau pendekatan ekstrinsik biasanya mempermasalakan sesuatu di seputar satra dan masyarakat bersifatsempit dan eksternal. Pendekatan sosiologi semacam terutama itu dianuyt dan dilakukan oleh kritikus.
      Disamping adanya pendapat yang menentang pendekatan sosiologiis, namun tidak kurang pula jumla kritikus yang melihat manfaat kritik sastra yang menggunakan pendekatan sosiologi. Dengan sosiologi orang mungkin dapat menunjukkan sebab-sebab dan latar belakang kelahiran dalam sebuah karya sastra, bahkan mungkin dapat membuat kritikus agar terhindar dari kekeliruan tentang hakekat karya satra yang di telaah trutama dengan menentukan fungsi suatu karya sastra dan mengetahui beberapa aspek sosial lain yang harus diketahui sebelum penelaahan dilakukan.
Kritik sosiologi deskriptif dengan deskripsi kemasyarakatan yang melingkupi satu karya satra, sering memberi bantuan yang besarterhadap keberhasilan suatu kritik sastra yang dilakukan.
      Suatu hal yang perlu dipahami dalam melakukan pendekatan sosiologis ini adalah bahwa walaupun seorang pengarang melukiskan kondisi sosial yang berada dilingkungannya namun ini belum tentu menyuarakan kemauan masyarakatnya dalam arti dia tidakla mewakili atau menyalurkan keinginan-keinginan kelompok masyarakat tertentu,yang pasti hanyalah dia menyalurkan atau mewakili hati nuraninya sendiri.. oleh sebab itu seseorang pengeritik yang menggunakan pendekatan sosiologi ini harus berhati-hati dalam mengambil kesimpulan yang berhubungan dengan pertautan antar masa lahir suatu karya sastra dengan tata kemasyarakatan yang ada diwaktu itu bisa terjadi dengan daya kreativitas, pengarang justru mengunukapkan tentang suatu masyarakat yang diinginkannya.
     Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan sosiologi memiliki segi-segi yang bermanfaat dan berdaya guna yang tinggi bila para kritikus tidak melupakan atau memperhatikan segi-segi instrinsik yang membangun karya satra.
1.4           Tentang Metode
Ada benerapa kemungkinan metode yang dapat digunakan dalam penilitian sosiologi
Sastra yaitu:
1        Kepada masyarakat tertentu terutama masyarakat yang disebut-sebut dalam karya satra yang diberikan angket tentang keadaan sosio-budaya.
2        Dengan menghubungkan suatu unsur yang ada dalam karya sastra tertentu dengan bersamaan yang terdapat dalam masyarakat.
3        Kepada anggota masyarakat tertentu yang diminta membaca karya satra dengan pertayaan-pertayaan tentang hubungan karya sastra dengan keadaan sosio-budaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar