Laman

Kamis, 24 November 2011

Kajian Makna Semantik


KAJIAN MAKNA

1.      Kajian makna lazim disebut “semantik” (Inggris: semantics).
2.      Kata semantik berasal dari bahasa Yunani semantikos artinya penting atau mengandung arti. Semantikos berasal dari kata semainein yang berarti menunjukkan atau menjelaskan tanda.
3.      Tanda atau lambang ini dimaksudkan sebagai tanda lingusitik (Perancis: signelinguistique).
4.      Menurut Ferdinand de Saussure (1916), tanda bahasa itu meliputi signifiant ‘penanda’ dan signifie ‘petanda’.

Tanda Bahasa
Petanda, penanda, dan acuan

Defenisi Makna
1.      Suatu sifat yang intrinsik.
2.      Hubungan dengan benda-benda lain yang
3.      unik, yang sukar dianalisis.
4.      Kata lain tentang suatu kata yang terdapat di
5.      dalam kamus.
6.      Konotasi kata.
7.      Suatu esensi. Suatu aktivitas yang
8.      diproyeksikan ke dalam suatu objek.
a.       Suatu peristiwa yang dimaksud
b.      Keinginan
 
Perkembangan Kajian Makna
1.                  Plato (429-347 SM) yang juga guru Aristoteles menyatakan bahwa bunyi-bunyi bahasa secara implisit mengandung makna-makna tertentu.
2.                  Aristoteles (384-322 SM), seorang sarjana bangsaYunani, sudah menggunakan istilah makna, sewaktu mendefinisikan kata. Dijelaskannya bahwa kata adalah satuan terkecil yang mengandung makna.
3.                  Bloomfield (1939) menyinggung masalah makna. Misalnya menyebut fonem sebagai unsur bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna kata.

Semantik
1.      Sebagai istilah, kata semantik digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda atau lambang-lambang dengan hal-hal yang ditandainya, yang disebut makna atau arti.
2.      Istilah lain semantik: semiotika, semiologi, semasiologi, sememik, semik, dan signifik. Namun, istilah semantik lebih umum digunakan dalam studi linguistik karena istilah-istilah yang lainnya itu mempunyai cakupan objek yang lebih luas, yakni mencakup makna tanda pada umumnya.

Syarat Teori Semantik
1.      Meramalkan makna setiap kalimat yang muncul dan didasarkan pada satuan leksikal yang membentuk kalimat tersebut;
2.      Merupakan seperangkat kaidah;
3.      Membedakan kalimat yang secara gramatikal benar dari yang secara semantis salah; dan
4.      Meramalkan makna yang berhubungan dengan struktur leksikal seperti sinonim,antonim, dan homonim 

Semantik Dalam Sistem Bahasa
Bahasa
Sistem, pragmatik, pemakaian
Lisan dan tilisan
Beberapa pendekatan psikologi terhadap makna:
  1. Psikologi behaviotisme = makna merupakan bentuk responsi dari stimulus yang diperoleh pemeran dalam komunikasi sesuai dengan asosiasi maupun hasil belajar yang dimiliki.
  2. Psikologi kognitif = pemahaman terhadap bentuk kebahasaan ditentukan oleh representasi semantis, kemampuan mengolah proposisi, menata struktur sintaksis, dan memahami fitur semantis.
  3. Psikologi humanistik = makna ditentukan oleh pengetahuan seseorang tentang referen yang diacu serta konteks pemakaian, penyimpulan makna kataberbeda-beda sesuai dengan konteks pemakaian.
Semantik Dengan Sosioantropologi
Dalam menentukan fungsi dan komponen semantik, ada tiga faktor yang terkait, yakni
1.      Ideasional, isi pesan yang ingin disampaikan,
2.      Interpersonal, makna yang hadir dalam peristiwa tuturan, dan
3.      Tekstual, bentuk kebahasaan serta konteks tuturan yang merepresentasikan makna tuturan (halliday, 1978:111). 

Semantik Dengan Sastra
Berbeda dengan bahasa keseharian, bahasa dalam sastra
Memiliki kekhasan karena merupakan salah satu bentuk idiosyncratic, yakni tebaran kata yang digunakan merupakan hasil olahan dan ekspresi individual pengarangnya
Strata makna dalam karya sastra mencakup:
1.      unit makna literal (tersurat),
2.      dunia rekaan pengarang,
3.      dunia dari titik pandang tertentu,
4.      pesan yang bersifat metafisis (ingarden dalam aminudin, 1984:63). 6/4/2010 25 

Pendekatan Dalam Kajian Makna
 Pendekatan berdasarkan tiga fungsi bahasa:
1.      Pendekatan referensial
2.      Pendekatan ideasional
3.      Pendekatan behavioral
 
Pendekatan Referensial/Realisme
1.      Bahasa berfungsi sebagai wakil realitas.
2.      Wakil realitas itu menyertai proses berpikir manusia secara individual.
3.      Berpusat pada pengolahan makna suatu realitas secara benar.
4.      Adanya kesadaran pengamatan terhadap fakta dan penarikan kesimpulan secara subjektif.
5.      Makna merupakan julukan atau label yang berada dalam kesadaran manusia untuk menunjuk dunia luar.
6.      Membedakan makna dasar (denotatif) dari maknatambahan (konotatif). 

Pendekatan Idesional
1.      Bahasa berfungsi sebagai media dalam mengolah pesan dan menerima informasi.
2.      Makna muncul dalam kegiatan komunikasi.
3.      Makna merupakan gambaran gagasan dari suatu bentuk bahasa yang arbriter, tetapi konvensional  sehingga dapat dimengerti.
4.      Kegiatan berpikir manusia adalah kegiatan berkomunikasi lewat bahasa.
5.      Bahasa merupakan pengemban makna untuk mengkomunikasikan gagasan.
6.      Bahasa memiliki status yang sentral. karena itu, apabila:

◦ salah berbahasa dalam berpikir, pesan tak tepat; dan
◦ bahasa dalam berpikir benar, kode salah, informasi akan menyimpang.
 
Pendekatan Behavioral/Kontekstual
1.      Bahasa berfungsi sebagai fakta sosial yang mampu menciptakan berbagai bentuk   komunikasi
2.      Makna merupakan anggapan atas berbagai konteks situasi ujaran (speech act)
3.      Kemunculan makna bergantung pada konteks situasi dan sosiokultural.
4.      Konteks sosiokultural dan konteks situasional merupakan suatu sistem yang berada di luar
5.      bahasa, tetapi mewarnai keseluruhan sistem bahasa.

Ujaran manusia itu mengandung makna yang utuh.
Keutuhanmakna itu merupakan perpaduan dari empat aspek, yakni
1. Pengertian (sense),
2. Perasaan (feeling),
3. Nada (tone), dan
4. Amanat ((intension).
 Memahami aspek itu dalam seluruh konteks adalah bagian dari usaha untuk memahami  makna dalam komunikasi (Shipley, 1962;263).
Perasaan adalah aspek makna yang bersifat subyektif, yakni sikap penyapa terhadap tema atau pokok pembicaraan. Misalnya, sedih,gembira, dan marah.
Nada adalah aspek makna yang bersifat subyektif, yakni sikap panyapa terhadap pesapanya. Pesapa yang berlainan akan mempengaruhi pilihan kata (diksi) dan cara penyampaian amanat. Karena itu, relasi penyapa dan pesapa melahirkan nada tertentu dalam komunikasi. Misalnya: sinis, ironi, dan imperatif
Amanat adalah aspek makna yang berupa maksud dan tujuan yang ingin dicapai oleh penyapa, berupa sampainya ide panyapa kepada pesapa secara tepat. Amanat berkaitan dengan maksud penyapa serta penafsiran dari pesapa. Jika amanat tidak diterima dengan tepat oleh pesapa, maka akan timbul salah paham atau salah komunikasi. Karena itu, amanat sebenarnya merupakan pesan penyapa yang telah diterima oleh pesapa.
Tanda memiliki hubungan yang langsung dengan kenyataan, sedangkan lambang meimiliki hubungan yang tidak langsung dengan kenyataan. Tanda dalam bentuk bunyi ujaran atau hurufhuruf huruf disebut lambang. Lambang juga merupakan tanda, tetapi tidak secara langsung, melainkan melalui sesuatu yang lain. Warna merah, misalnya, merupakan lambang ‘keberanian’.
1.      Tanda yang ditimbulkan oleh alam;
2.      Tanda yang ditimbulkan oleh binatang;
3.      Tanda yang ditimbulkan oleh manusia, terbagi atas:

Acuan Atau Referen
Acuan atau referen adalah sesuatu yang ditunjuk atau diacu, berupa benda dalam kenyataan, atau sesuatu yang dilambangkan dan dimaknai. Acuan merupakan unsur luar bahasa yang ditunjuk oleh unsur bahasa. Misalnya, benda yang disebut ‘rumah’ adalah referen dari kata rumah.
Makna merupakan hubungan antara lambang dan acuannya. Batasan makna ini sama dengan istilah  pikiran atau referensi (Ogden & Pichards, 1923:11) atau konsep (Lyons, 1977:96). Hubungan antara makna dengan lambang dan acuan sama, yakni bersifat langsung.
 
Makna Leksikal
 Makna leksikal adalah makna unsur-unsur bahasa (leksem) sebagai lambang benda, peristiwa, obyek,dan lain-lain. Makna ini dimiliki unsur bahasa lepasdari penggunaan atau konteksnya. makna leksikal adalah gambaran nyata tentang suatu benda, hal, konsep, obyek dan lain-lain, seperti yang dilambangkan oleh kata.
Makna langsung atau konseptual adalah makna kata atau leksem yang didasarkan atas penunjukkan yang langsung (lugas) pada suatu hal atau onyek di luar bahasa. Makna langsung atau makna lugas bersifat obyektif, karena langsung menunjuk obyeknya. Makna langsung disebut juga dengan beberapa istilah seperti makna denotatif, makna referensial, makna kognitif, makna ideasional,makna konseptual, makna logikal, makna proposional, dan makna pusat.
Makna luas atau makna umum ialah makna yang lebih luas atau lebih umum dari makna pusatnya; makna yang terkandung dalam sebuah leksem lebih luas dari yang kita perkirakan
Makna sempit atau makna khusus adalah makna ujran yang lebih sempit atau khusus dari pada makna pusatnya. Misalnya, kata ahlibermakna ‘orang yang mahir atau pandai dalam segala ilmu pengetahuan’, tetapi makna ahli dalam kalimat: Prof. Dr. H. Yus Rusyana adalah ahli sastra
Makna kiasan atau asosiatif adalah makna kata atau leksem yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul padapenyapa dan pesapa. Makna ini muncul sebagai akibat asosiasi perasaan pemakai bahasa terhadap leksem yang dilafalkan atau didengarnya
Makna konotatif adalah makna yang tidak langsung menunjukkan hal, benda, atau obyek yang diacunya, biasanya mengandung perasaan, kenangan, dan tafsiran terhadap obyek lain. Makna konotatif merupakan pemakaian makna yang tidak sebenarnya.
 
Makna Afektif
 Makna afektif adalah makna yang timbul sebagai akibat reaksi pesapa terhadap penggunaan bahasa dalam dimensi rasa. Makna ini berhubungan dengan perasaan yang timbul setelah pesapa mendengar atau membaca sesuatu kata sehingga menunjukkan adanya nilai emosional karena itu, makna afektif disebut juga makna emotif.
Makna Piktorial
 Makna piktorial atau makna tak pantas muncul sebagai akibat bayangan pesapa terhadap kata yang didengar atau dibacanya. Kata-kata yang kurang pantas biasanya dianggap tabu, kurang sopan, atau menjijikan sehingga penyapa sering dicela sebagai orang yang kurang sopan. 

Makna Gereplektif
 Makna gereplektif atau makna pantangan adalah makna yang muncul akibat reaksi pemakai bahasa terhadap makna lain. Makna ini terdapat pada kata-kata yang berhubungan dengan kepercayaan masayarakat kepada hal-hal yang bersifat kepercayaan (magis). 

Makna Kolokatif
 Kolokasi adalah seluruh kemungkinan adanya beberapa kata dalam lingkungan yang sama. Misalnya, garam, gula, lada, bumbu, cabe berkolokasi dengan bumbu masak. Kolokasi merupakan sosialisasi yangtetap antara kata dengan kata-kata tertentu yang lain.
Idiom atau ungkapan adalah konstruksi unsur bahasa yang saling memilih, masing-masing unsurnya mempunyai makna yang ada karena bersama yang lain. Idiom merupakan kosntruksi bahasa yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna unsur-unsurnya.
Makna gramatikal adalah makna struktural yang muncul sebagai akibat hubungan antara unsur-unsur gramatikal dalam satuan gramatikal yang lebih besar. Misalnya, hubungan morfem dan morfem dalam kata, kata dan kata lain dalam frasa atau klausa, frasa dan frasa dalam klausa atau kalimat
 
Makna Tematis
 Makna tematis adalah makna yang muncul sebagai akibat penyapa memberi penekanan atau fokus pembicaraan pada salah satu bagian kalimat.
Bahasa itu relatif berubah. Perubahan bahasa berupa penggantian ciri-ciri bahasa dari satu tahap ke tahap lain. Perubahan bahasa dapat terjadi dalam dua lapisan, baik lapisan bentuk maupun lapisan makna. Perubahan bentuk bahasa akan mengakibatkan perubahan maknanya.

Semoga Bermanfaat Yah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar